Gemak-gemak yang bisa melewati hari-hari kelam itu sekarang sudah kuat. Tidak ada lagi gemak mati terhimpit. Proses seleksi hidup di kurungan gemak berjalan rupanya. Menyisakan gemak yang kuat, serta gemak yang beruntung mempunyai kesempatan untuk menjadi kuat. Tapi kuat bukan jaminan untuk terus hidup. Yah, namanya hidup, tidak ada yang tau kapan akan berhenti. Dan beruntungnya mereka, gemak-gemak itu. Umur bukan masalah buat mereka. Pertimbangan mereka untuk hidup adalah apa yang dirasakannya saat itu. Sayangnya dengan pertimbangan seperti itu, daya tawar kehidupan mereka sangat kecil dimasa depan. Kemungkinan besar mereka akan berakhir diwajan. Tak apa-apa. Mereka gemak.
Saturday, November 16, 2013
Gemak-Gemak Bapak
Gemak-gemak itu sekarang sangat lincah. Sudah kuat rupanya. Kalo ingat kemaren lalu, dimana dikurungan itu selama beberapa hari ada gemak yang mati. Mati mengenaskan, terhimpit kawan-kawannya sendiri, sesama gemak sekurungan. Terhimpit saat mereka melewati malam, mendesak ke gemak lain agar mendapatkan kehangatan. Untuk hidup lebih lama lagi? Tidak. Lebih karena mereka tidak suka dingin. Bagaimana hasrat mencari kenyamanan tanpa tenggang rasa bisa membunuh. Tapi mereka gemak. Tidak mengenal tenggang rasa. Saat ada kawan sekandangnya yang mati karena mereka, mereka tetap tak merasa bersalah. Makanpun masih lahap. Mereka gemak. Tak apa-apa.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment