Tuesday, October 21, 2014

Malam, kelam mencengkeram, dengan bayang bayang yang terekam, sirna dunia. Gores menggigit, luka luka penuh tanya. Dan dia menggenggam erat, dia menggenggam pekat. Serta rindu yang disimpan dalam peti yang berkarat, meronta cepat. Sial, pagi masih lama.

Monday, October 20, 2014

Tembok-tembok runtuh di sekitarmu. Juga tulang-tulangmu. Tapi tak sedikitpun  kamu peduli. Kecuali rindu. Rindumu. Diatas sofa. Hanya rindu. Kamu merasa ingin bertemu, sekedar bertemu. Karena rindu. Tapi masih saja kamu berdiam diatas sofa. Dengan tembok-tembok yang runtuh disekitarmu. Juga tulang-tulangmu. Tapi kamu tak peduli, kecuali rindu.

Didetik kemudian, rindu yang berdiam, meronta, membelah kesunyian. Keetakutanmu dipertanyakan. Dan selalu saja dapat kamu beri beribu alasan. Begini. Begitu. Katamu. Kamu, pecundang yang merindu. Penuh alasan yang memuakkan. Mual tak terelakkan. Mengaku ngaku rindumu tak tertahankan, tapi masih saja kamu bertahan disana, diatas sofa. Dengan tembok-tembok yang runtuh di sekitarmu. Juga tulang-tulangmu.

Hingga kemudian kamu tidak percaya lagi atas dirimu. Rindumu yang tak tertahankan itu hanyalah tipuan. Rindu tak terperi, tapi kamu masih berdiam diri. Menipu diri sendiri. Masih saja disana, di atas sofa, dengan tembok-tembok runtuh disekitarmu. Juga tulang-tulangmu. Berdiam diasana, di atas sofa. Kamu, pecundang dan penipu. Menipu diri sendiri.

Saturday, October 11, 2014

Langkah, yang sudah, seperti mengarah ke tempat yang salah. "Bukan kesana", kata naluri. Seperti terkejut, menyesal atas apa yang telah meletup. Lalu terciptalah perisai, seolah dapat menjadi perisai. Sedangkan serangan belum mulai diterima.

Lalu pada malam keseratus dua puluh tujuh, tidak, lebih, ada sebagian waktu yang disisipi. Dominan, seperti waktu waktu sebelum ini. Dominan, dan saya dapat memaklumi. Kemudian bertanya pada, ah, tapi buat apa bertanya, mereka tidak tahu jawabannya. Bahkan kamu. Atau lebih takut kepada mendengar jawabannya. Jawaban yang mungkin tidak sesuai. Mungkin. Biasa. Iya, takut. Biasa. Dan pengakuan ini ditertawakan.

Thursday, August 21, 2014

Lelap Adalah Gerbang Menuju Ruang Rindu










Mungkin lelap adalah gerbang menuju ruang kerinduan. Lalu mimpi adalah pesan pesan yang mengkristal. Atau hanya sepi yang sedang mempermainkan. Hingga tangan menjalin, menggenggam erat, dalam sebuah spasi dimana aku dan kamu menjadi bagian. Saus terbang. Maka bangun adalah pisau yang menusuk.


Sunday, August 17, 2014

Sore Merbabu

Merbabu, Pos 3, jalur Cunthel
Kepada siapa senja merona? Kepada pundak-pundak yang menahan beban. Kepada kaki-kaki yang melawan, melangkah pelan. Kita dapat berlari atau melompat atau berdiam. Juga duduk dan bersenandung pelan. Atau berkhayal? Silahkan saja, senja dan langit ini milik kita. Dan tidak perlu khawatir, senja tidak berhipokrisi. Kita tahu setelah ini akan gelap. Senja telah memberi tahu. Senja selalu memberi tahu. Tidak perlu khawatir. Bukankah ada penerang di tas-tas kita? Meskipun kamu bilang tidak ada penerang dihari-hari kita. Maka berhentilah sejenak, dan senja akan mengobati.

Lalu dapat kita mulai senja kita dengan membebaskan punggung kita dari rasa nyeri. Mebebaskan senang-senang yang terkubur rasa lelah. Membebaskan pikiran kita menuju cabang-cabang Ygdrasil. Membebaskan bekal-bekal dari dalam tas-tas kita. Karena senja ini adalah perayaan. Perayaan menuju kesenangan-kesenangan. Perayaan yang mengalun cepat dan pelan, dengan kesenangan yang mengambang. Tiap nanometer. Maka mulailah tertawa riang bersama remah-remah wafer yang bertaburan di rerumputan. Merayakan garis takdir yang bersilang. Menertawakan kemarin dan nanti. Hingga disini mulai dingin.

Juga disana dapat kamu temui dirimu duduk bersama siapapun yang kamu mau. Berpegangan tangan, ataupun melingkarkan lengan. Mengupacarakan senja yang akan berlalu. Mengantarkan Ra menuju dunia bawah. Dalam diam, atau dalam cengkrama. Terserah, bukankah senja dan langit ini milik kita. Maka sejenak, sebelum senja berlalu. Sebelum malam menguasai waktu.


Monday, May 5, 2014

Yea You


G C
your smile, your face, that stare from your eyes
your laugh, your voice, are you the angel of my paradise

Am Em F
and i
can erase from my mind

your smile, your face, that stare from your eyes
your laugh, your voice, are you the angel of my paradise

oh you
haunting me everyday

with your smile, your face, the stare from your eyes
your laugh, your voice, be the angel of my paradise



Sunday, May 4, 2014

Minggu Pagi di Minggu Ini, Itu Tadi

Hari minggu. Sudah ditetapkan dari sebelum jaman saya ngerti kalender, jadi tanggal merah. Artinya libur. Tapi tidak diwajibkan untuk libur. Tapi jadi banyak yang libur. Tidak seperti hari libur saya yang lain. Senin sampai Sabtu mereka tidak libur, saya libur. Dasar pengangguran! Biarin pengangguran!

Hari Minggu ini adalah hari Minggu. Tadi pagi ikut sepeda santai. Acara dalam rangka rangkaian perayaan hari jadi Kota Magelang ke 1108. Selamat! Sudah tua kamu! Ingat umur! Sepeda santainya rutenya panjang, 22 Km katanya, satu setengah jam katanya. Dan iya satu setengah jam, saya sudah buktikan. Tapi entah 22 Km nya.

35 ribu dapat kaos, roti, air minum gelasan, sama kesempatan untuk dapet hadiah. Hadiahnya banyak, kulkas, motor, sepeda, mobil, dll. Tapi yang ikut lebih banyak. Jauh lebih banyak. Saya ga kebagian hadiahnya. Apa apa, tapi mau gimana lagi.

ribuan peserta

ini juga

cuma kupon undian yang ga dapet undian


Friday, April 25, 2014

Kamu tau itu. Kamu tau, di dalam sana tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa kecuali apa yang ada disana. Kamu tau, itu tak menjadi jawaban, tak menjadi apa-apa. Tak menjadi apa-apa jika kamu tidak tau untuk apa. Kamu tidak tau.

Pernah kamu kira di dalam sana terdapat apa yang kamu cari. Kamu tengok di dalam sana, dan kamu temukan bukan apa yang kamu kira ada. Bahkan jika ada semesta didalam sana. Semu. Kamu tau bukan disana harus kamu tengok. Tapi dalam dirimu. Kebahagiaan itu..

Monday, April 21, 2014

Ini adalah senin seperti senin yang lain, hari seperti hari yang lain, pagi seperti pagi yang lain. Setiap saat adalah waktu-waktu yang tepat untuk memulai. Menyapa tak membuat lemah, berharap tak membunuh. Pun diam. Tak perlu buru-buru, kereta belum berangkat. Tapi bukan berarti tak bergerak. Tapi ini bergerak. Oh, pikiran jangan berkelahi. Tersesat, entah dimana. Disitu dimana kamu merasa.

Sunday, March 9, 2014

Dari Salah Satu dari Dua Orang yang Mengaku Bajingan

Dan tadi juga terdapat percakapan tentang dua orang yang mengaku bajingan, yang terjadi setelah putusnya si orang yang mengaku bajingan dengan kekasih. Oh, bukan, tapi putusnya rantai motor yang dikendarai orang yang mengaku bajingan. Bukan, karena sebenarnya mereka tidak punya kekasih. Percakapan tentang ketakutan, ketidakpercayaan, ke-predictable-an kehidupan, esensi kesempurnaan, tentang perjuangan, banyak.

Meskipun kata siapa-itu-saya-lupa bahwa, everythings seems impossible till its done, tapi buat kami everythings seems possible to be done. Oh, pake kami, jadi ketahuan bahwa dua orang yang mengaku bajingan itu salah satunya saya. Yang satu lagi adalah Haryo, partner in mengaku bajingan. Saya kasih tau biar punya temen ketahuan. Ya, everythings seems possible to be done. Tapi to be done by other people. Haha! Mungin kami kurang percaya diri menghadapi dunia. Mungkin meskipun kami bilang bahwa kami bajingan, tapi kami seperti bajingan yang bukan bajingan. Loh! Mungkin karena kami sering pesimis. Mungkin karena kami kurang percaya dengan kehidupan. Mungkin karena kami bilang bahwa reality is fuck. But no meen. Reality is bitches, and as a bastard, its not reality who fuck us. Its us who fuck reality. Yep, because reality is bitches. Haha! Nice quotes sepertinya. Quotes yang baru dibuat saat percakapan di depan sirkel key tadi. Tapi karena kami sering pesimis, sering terlarut dalam ketakutan, atau apa yang menghambat kami, jadi susah juga ya untuk fucking reality. Mungkin malah akhirnya malah jadi kami yang fucking ourself. Oh, fucking no. Haha.

Ya, dan disetiap kemungkinan terdapat possibility. Dan setiap posibbility terdapat impossibility. Seperti hal tentang sempurna yang juga kami bahas. Menurut kami, mungkin sempurna adalah menerima baik dan sisi buruknya juga. Tapi sebagai manusia, kita selalu punya kondisi baik ideal menurut pemahaman kita sendiri. Kondisi baik yang dapat diterima. Kita seringkali hanya tertuju pada itu. Padahal disetiap kondisi selalu ada sisi buruknya. Jadi intinya, mungkin persetan dengan sempurna. Kita cukup ingin dan berusaha, maka hasilnya akan datang. Kita cukup menerima dan semua akan baik baik saja. Dan kenapa sering pakai mungkin? Karena kami masih mencari. Dan kami tidak menutup kemungkinan, possibility akan kebenaran yang sesuai dengan jalan pikiran kami. Atau mungkin cuma karena kami kurang percaya diri? Ah, ini pakai mugkin lagi.

Dan tadi itu adalah kepulangan kami dari JEC. Ada pameran komputer, gadget, alat-alat elektronik, dan semacamnya. Dan dari puluhan stand alat-alat elektronik itu, saya malah lebih tertarik ke stand buku yang cuma ada dua disana. Membawa pulang sebuah buku yang sangat murah. Cuma 10rb, pas dengan kantong saya. Haha. Disampul belakangnya ada tulisan ini.

10rb coy!






"Duhai betapa dunia akan bermuram durja
Bila engkau tidak pernah
berkunjung ke rumah seorang kekasih
Dan tidak memiliki seorang kekasih
untuk menghiburmu"










Oh, dunia sedang bermuram durja berarti. Haha..
Yeah, its escalated quickly.. :|

Friday, March 7, 2014

Bersepeda 32 Km

Jadi, kemarin saya mencoba bersepeda dari Jogja ke rumah saya di Muntilan. Capek, banget. Sempak saya sampe kraket di pantat karena lama duduk di sadel sepeda. Tapi menyenangkan, seperti naik gunung. Meskipun naik gunung ga bikin  sempak kraket dipantat. Dan sesungguhnya jika kita mau memperhatikan, disekitar kita pun cukup indah. Indah dengan caranya sendiri. Pemandangan indah, serta ditemani One Ok Rock dan Arctic Monkeys yang terus bernyanyi sepanjang jalan membuat saya jadi terpacu. Mereka aja nyanyi terus sepanjang jalan, berjam-jam, tanpa henti aja ga capek, masa saya capek. Tapi sayangnya capek tidak bisa dibohongi. Saya capek. Biar saja mereka terus bernyanyi, tapi saya mau berhenti dulu. Saya butuh istirahat.




Bersepeda ini sudah lama sebenarnya ingin saya lakukan, tapi baru kemarin bisa terlaksana. Menempuh jarak sekitar 32 km, dengan waktu sekitar 4 jam lebih. Lama sih, karena baru pertama kali saya menempuh perjalanan jauh dengan sepeda, sehingga banyak istirahat. Banyak jalan juga. Karena ternyata hal yang baru saya sadari kemarin bahwasanya jalan Jogja - Muntilan itu nanjak. Maka bersepedalah, dan kamu akan tau elevasi jalan. Nanjak, jadi ga kuat ngayuh. Jadi lebih milih jalan, menuntun sepeda. Dan ternyata lebih kuat jalan daripada ngayuh sepeda. Mungkin karena biasa naik gunung, jadi lebih terbiasa. Tadinya malah sepedanya mau saya gendong sekalian biar kaya naik gunung, ada beban di punggung. Tapi saya tau itu hal bodoh. Jadi tidak saya lakukan. 

rute sepedaan

Kemarin saya mencoba untuk mengetes kecepatan maksimal dari sepeda. Karena selalu disalip kendaraan lain, saya tidak terima. Jadi saya pancal kayuh sepeda sekuat tenaga, badan posisi menunduk agar laju sepeda tidak tertahan oleh angin. Tapi apa mau dikata, tetap saya tidak bisa menandingi kecepatan motor motor itu. Tadinya saya pikir itu memang kodrat sepeda untuk berjalan lambat seperti itu. Tapi setelah sepeda saya disalip juga oleh sesama sepeda. Bahkan yang mengendarai itu anak kecil, juga mbah-mbah, saya jadi curiga. Dan benar kecurigaan saya. Benar ternyata ada yang tidak beres dengan si sepeda. Bahwa ternyata gear sepeda bermasalah, giginya tidak mau pindah. Jadi ga bisa cepet, terus di gigi satu. Huft!

Akhir kata, bersepeda itu capek, apalagi kalo jauh. Tapi menyenangkan. Jadi, mari bersepeda! *nyari temen*

Wednesday, February 26, 2014

Ini Hari Rabu dan Sudah Seminggu Lebih Saya di Rumah dan Ini Lanjutan Yang Tadi

Ini hari Rabu, dan sudah seminggu lebih saya dirumah. Dan saya bosan. Dan saya berpikir untuk mencari pekerjaan. Tapi saya malas. Dan meneruskan tulisan ini juga sudah malas. Dan untuk semua ini saya menyalahkan rasa malas sialan saya, tapi lebih sialan saya karena mengikuti rasa malas ini. Ini hari Rabu, dan saya malas.

Ini Hari Rabu dan Sudah Seminggu Lebih Saya di Rumah

Ini hari Rabu, dan sudah seminggu lebih saya dirumah. Tidak bekerja yang menghasilkan uang, atau jalan jalan yang menghabiskan uang, karena uang saya tinggal sedikit *suog!*. Meskipun banyak rekan rekan seperlulusan saya sebagian mengisi waktu dalam menunggu pengumuman kejelasan masa depan terkait dengan kelulusannya dengan magang bekerja disana juga disana, tapi saya tidak. Saya merasa malas, karena toh nantinya juga akan dapat kerjaan. Saya sepede toh-nantinya-dapat-kerjaan itu karena saya lulus dari STAN. Karena STAN sekolah ikatan dinas, maka yang lulus, terikat kontrak untuk bekerja setelah lulus. Tapi setelah lulusnya itu kapan, buat angkatan saya belum diketahui secara pasti. Nah, karena itu, dari pada magang bekerja yang menghasilkan uang, saya pikir mengisi waktu penungguan ini dipakai buat jalan jalan yang menghabiskan uang. Tapi tidak jadi karena uang saya tinggal sedikit. Dan karena begitu, saya berpikir untuk bekerja saja mencari uang. Saya berpikir untuk bekerja sebagai waiter, atau apa gitu yang bukan kerja kantoran. Ga nyambung dengan pendidikan saya tapi tak mengapa, saya tertarik. Tapi sampai sekarang  masih saja belum melamar pekerjaan seperti itu.

Rian datang. Dilanjutkan lain kali.