Saturday, October 11, 2014

Langkah, yang sudah, seperti mengarah ke tempat yang salah. "Bukan kesana", kata naluri. Seperti terkejut, menyesal atas apa yang telah meletup. Lalu terciptalah perisai, seolah dapat menjadi perisai. Sedangkan serangan belum mulai diterima.

Lalu pada malam keseratus dua puluh tujuh, tidak, lebih, ada sebagian waktu yang disisipi. Dominan, seperti waktu waktu sebelum ini. Dominan, dan saya dapat memaklumi. Kemudian bertanya pada, ah, tapi buat apa bertanya, mereka tidak tahu jawabannya. Bahkan kamu. Atau lebih takut kepada mendengar jawabannya. Jawaban yang mungkin tidak sesuai. Mungkin. Biasa. Iya, takut. Biasa. Dan pengakuan ini ditertawakan.

No comments:

Post a Comment